Pandangan Kaavi terfokus pada layar komputernya. Matanya sibuk membaca sebuah artikel yang menampilkan profil dari seorang pembalap mobil bernama Jui Juvistha.
Usai keluar dari ruangan Mas Tama, Kaavi memang tidak mengatakan apapun. Rona dan Daksa juga memilih diam begitu menyadari raut wajah Kaavi yang muram, mereka tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Beberapa menit berikutnya giliran Daksa dipanggil ke ruang Mas Tama. Semakin jelaslah alasan dibalik wajah suram Kaavi.
Rona memutuskan untuk tidak mengajak Kaavi berbicara terlebih dahulu. Ia mengerti kalau rekannya itu pasti butuh waktu sendiri untuk mendinginkan kepala. Daksa di sisi lain kebingungan dengan situasi yang terjadi. Hendak mendekati Kaavi lebih dulu dan meminta maaf, namun tahu kalau hal itu hanya akan membuatnya menjadi santapan singa yang lapar.
Kaavi menggerakkan mouse-nya untuk memperbesar foto Jui Juvistha. Tampak seorang pemuda usia dua puluh tahunan tengah naik ke atas podium dengan senyum lebar dan tangan menggenggam botol champagne.
“Nggak usah ngintip-ngintip, kalau mau ngomong ya ngomong aja,” ujar Kaavi datar dengan pandangan yang masih menetap pada foto Jui. Ia menyadari Daksa yang sedari tadi meliriknya dari tempat pria itu duduk.
Daksa langsung mengeluarkan kegusarannya. “Ah, jangan marah sama gue, Kaavi. Kan bukan gue yang minta! Ah elo mah, kalau mau marah sama Mas Tama, sama Sira, sama Bapaknya Sir — intinya maafin gue, deh.”
Kaavi membawa rolling chair-nya berputar menghadap Daksa dan Rona yang kebetulan memiliki meja di sisi kanan meja kerjanya. Kaavi membawa matanya melirik Rona di sisi kiri dan Daksa di sisi kanan.
“Gue nggak marah.” Balasnya datar.
“Ah, tuhkan tuhkan, dia marah, kan, Ron?” tanya Daksa mencari dukungan.
Rona memilih mengangkat bahu. Tidak ikut berkomentar, namun jelas penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Kaavi, melihat bagaimana ia memilih menghentikan aktivitasnya dan berfokus pada obrolan Kaavi dan Daksa.
“Dan bener kata lo tadi, Sa. Kalau gue harusnya marah sama Mas Tama, atau Sira, atau Bapaknya Sira, bukan ke elo,” Kaavi membawa punggungnya ke sandaran kursi, mencari posisi yang lebih nyaman. “Gue diem tuh karena lagi nenangin pikiran aja, supaya gue nggak gegabah ke divisi fashion buat jambak rambutnya Sira.” Lebih mengerikan bagi Daksa karena Kaavi mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
“Bener, ya, nggak marah sama gue?” tanya Daksa sekali lagi memastikan. Begitu mendapat anggukan dari Kaavi, Daksa bertanya kembali. “Gue mau jalan-jalan ke luar negeri, nih, lo mau nitip apa?”
Kaavi tersenyum hingga kedua matanya membentuk lengkungan. Kemudian dengan cepat tangannya melemparkan kotak pensil ke kepala Daksa.
“Suka lupa gue kalo lo nggak berakhlak.”
Kaavi menggeserkan kursinya kembali menghadap komputer. Rona sudah tertawa keras melihat kotak pensil Kaavi tepat mengenai kepala Daksa. Si empunya kepala sudah merintih sambil memegangi kepala, mengira-ira apa isi kotak pensil Kaavi yang begitu berat sampai membuat kepalanya pusing.
Kaavi mengabaikan Daksa yang menyumpahinya. Tangan dan matanya bekerja sama menemukan lebih banyak artikel tentang Jui Juvistha di internet. Ah, alasan Kaavi begitu fokus pada Jui Juvistha karena ucapan terakhir Mas Tama.
“Kamu bakal dialihin ke liputan lain.”
Kaavi yang sudah lelah mendengar semua ucapan Mas Tama hanya mengangkat alisnya, menunggu kelanjutan kalimat Mas Tama.
“Konten baru di majalah kita. Fall off the radar section. Kita bakal liput orang-orang yang sudah lama nggak muncul ke publik untuk tahu apa yang mereka lakukan selama ini. Tiap orang akan menjadi topik selama dua bulan alias delapan kali muncul di majalah.”
“Setelah batal liputan, sekarang Mas Tama suruh saya pindah divisi gitu? Saya travel journalist, Mas. Bukan dari divisi lifestyle atau entertainment.”
“Heh, dengerin dulu, ya, Kaavi,” Mas Tama menenangkan Kaavi. “Tujuan konten ini buat menunjukkan gimana kehidupan seseorang setelah mereka hiatus, apa aja yang mereka lakukan, hobi baru apa yang mereka punya. Kalau di antara mereka ada yang suka travelling kamu bakal diuntungin juga, kalau dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, justru bagus karena sekarang staycation baru musim, biar orang-orang ada gambaran liburan di rumah bisa ngapain aja. Bagian dari travel journalist, kan?”
Kaavi menghela napas pelan usai mendengar penjelasan panjang Mas Tama yang lebih mirip alasan yang baru saja dibuat alias nggak ada korelasinya.
“Tokoh pertama siapa, Mas?”
Pertanyaan Kaavi membuat senyuman Mas Tama mengembang.
“Jui Juvistha.”
“Widih siapa, tuh?” tanya Daksa begitu melintas di belakang Kaavi. Inilah hebatnya Daksa, ia bisa bersikap seolah tidak ada apa-apa meski baru saja kena timpuk kotak pensil Kaavi. “Oh, Jui Juvistha, ya?”
“Lo kenal?”
“Nggak kenal, sih, tapi tau aja. Emang siapa orang di dunia ini yang nggak tau Jui?”
“Gue.”
Daksa memejamkan matanya. Lupa dengan siapa ia berteman. “Yah, selain lo.”
“Ron, lo tau Jui?” Kaavi sengaja bertanya pada Rona.
“Nggak.” Jawab Rona pendek.
“Oke, selain kalian berdua.” Daksa mengusap wajahnya kasar. “Ngapain lo cari berita tentang Jui?”
“Buat liputan.”
“Hah?”
“Konten baru. Gue jadi jurnalisnya. Jadi gue perlu liputan.”
“Kan lo bukan jurnalis sport.”
“Benar, gue juga bukan jurnalis lifestyle maupun entertainment. Tapi gue disuruh liput kehidupan Jui Juvistha selama masa hiatus. Thanks to you.”
“Lo marah sama gue?!” tanya Daksa dengan nada dramatis.
Kaavi berdecak, merasa salah bicara. “Nggak nggak, gue tarik deh. Thanks to Sira dan bapaknya.”
“Tapi, that’s a good opportunity tho. Biasanya kalau konten baru sukses lo dapet bonus tambahan.” Kali ini Rona ikut berkomentar. Akhirnya punya kalimat yang bisa dikeluarkan untuk menghibur Kaavi.
Kaavi mengangguk-angguk. Secercah kebahagiaan muncul di hatinya.
“Iya, apalagi setelah lo nggak jadi liputan perjala — ” Daksa menghentikan kalimatnya begitu mendapat tatapan tajam dari Rona dan Kaavi. “L-lo lagi dengerin apa, Kaav?” Daksa dengan gagap mengalihkan pembicaraan, tangannya meraih sebelah earphone Kaavi.
Kemudian langsung terdiam begitu mendengar lagu yang sengaja Kaavi putar dengan volume tinggi. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
“Oh, Kecewa-nya BCL yang one hour loop.”
KU INGIN MARAH, MELAMPIASKAN.
Rona tertawa puas melihat Daksa yang berubah pucat. Daksa sendiri buru-buru melepas earphone Kaavi dan berlari kecil ke mejanya.
Kaavi tersenyum kecil menatap Daksa. Ia fokus kembali mencari profil Jui Juvistha begitu pula akun media sosialnya. Sayangnya nihil. Akun media sosial Jui sangat berdebu, terlihat dari bagaimana postingan terakhir dibuat pada dua tahun lalu, semua komentar dinonaktifkan, dan ada pemberitahuan di bio untuk tidak mengirimkan pesan. Satu-satunya akun tentang Jui yang masih sering beroperasi adalah akun basis penggemarnya. Kaavi mengalihkan pencariannya ke alamat dan kontak agensi Jui.
“Ron, lo tau ini nggak?” Kaavi sengaja menunjukkan nama agensi Jui pada Rona.
“Oh, tau. Ini agensinya Mara, atlet thriatlon, gue dulu pernah wawancara dia di Travel Ideas from Star section. Ternyata seagensi sama Jui, ya,” Rona menggerakkan jemarinya pada ponsel. “Mau gue kasih kontaknya?”
Kaavi mengangguk cepat. Matanya menunjukkan binar seperti anak kucing yang menemukan pemiliknya.
“Gue kirim di chat, ya. Ntar lo minta aja nomor manajernya Jui.”
Kaavi meninju udara, dengan semangat langsung berusaha menghubungi agensi Jui. Paling tidak ada satu hal yang berjalan lancar hari ini.
Sayangnya, tidak butuh sepuluh menit ekspresi bahagia Kaavi tersungging, wajahnya berubah muram kembali usai panggilan berakhir.
Rona dan Daksa saling memandang. Menunjuk satu sama lain tanpa suara untuk bertanya apa yang terjadi. Sebelum akhirnya Kaavi berseru lebih dulu, membuat aksi pandang-memandang Rona dan Daksa terhenti.
“SIALANNN!”
Rona dan Daksa buru-buru fokus kembali pada pekerjaan mereka. Membuang jauh-jauh pikiran untuk bertanya pada Kaavi.